Rabu, 02 Oktober 2013

Moment Indah Karya "GEMBRUNG PANGLAWUNG" pada Opening Duta Seni Pelajar 2013



Naskah Drama Tari “PANGERAN ASTAPATI”

Babak I Adegan 1. Suasana masyarakat Kanekes Baduy yang hidup damai, tentram, menyatu dengan alam. Kental budaya Sunda dengan suara Anklung Buhun dan Dogdog Lojor yang melankolis khas lading huma. Ada narasi/ tembang tentang Sanghyang Tunggal Ratu Sunda berputera Batara Cikal, Batara Patanjala dan tiga anak lainnya. Batara Patanjala memerintah di Kanekes Baduy. Batara Patanjala berputra Batara Bungsu. Batara Bungsu adalah bapa dari Girang Pu’un Cikartawana bernama ksatria Dukun Putil. Salah satu anak Dukun Putil merasa tidak puas dengan hanya hidup di pekampungan tradisi Baduy, maka ia berniat meninggalkan tempat kelahirannya dan berniat mengelana. Ialah yang bernama Wirasuta, yang kelak akan menjadi prajurit andalan Sultan Banten ke VI. Adegan 2. Dari tarian kelompok, kemudian ada tokoh Puun dan seorang anak muda yang gerakannya terkesan menolak ajakan dari tokoh Puun. Gerakan anak muda (Wirasuta) semakin lama semakin menguat, dan akhirnya berpamitan kepada Puun. Ia dibekali sebilah keris bernama “Kebo Gandar” lalu keluar dari barisan masyarakat Baduy (keluar pentas) para penari lain seperti ketakutan, gelisah, suasana tegang melihat dari jauh perjalanan Wirasuta. Tokoh Puun berjalan perlahan meninggalkan pentas. Babak II Wirasuta menari solis (tunggal) memperlihatkan karakternya yang gagah, namun polos, sesekali mengeluarkan kerisnya. Ia berjalan mengikuti aliran sungai Jung (digambarkan dengan kain putih). Pepohonan yang terlewati turut memberikan do’a dan restu akan keberangkatan seorang pemuda gagah dari tanah Mandala Kanekes. Babak III Adegan 1. Suasana di Kesultanan Banten yang agung. Beberapa berbusana erofa, China, India, Arab hormat terhadap Sultan yang agung. Menggambarkan betapa ramai dan diminatinya Banten oleh bangsa-bangsa asing. Adegan 2. Sultan Ageng Tirtayasa marah dan menolak monopoli Belanda, serta bentuk perjanjian kerjasama yang menguntungkan sepihak. Ia menyatakan perang dengan Belanda atau siapapun yang ingin menguasai perdagangan Banten. Ia sangat tidak suka pada penguasa asing yang ingin meraup keuntungan belaka diwilayah Kesultanan Banten. Peperanganpun tidak bisa dielakkan. Babak IV Adegan 1. Suasana di Kesultanan Banten. Masuk Wirasuta yang kemudian dihadapkan pada Sultan, dan Sultan menerima dengan tangan terbuka, ia ditempatkan sebagai tukang cuci, mengurus kebudan dan mengurus kuda. Ia berbaur dengan para abdi keraton lainnya. Menari rampak bersama para abdi. Pada suatu saat ia muncul sendiri, memperlihatkan kecakapan, dan kegagahannya. Adegan 2. Wirasuta diangkat menjadi Mentri Negara merangkap sebagai Panglima Perang Surasowan. Tarian penobatan yang agung sampai dengan mengiringi kepergian Raden Wirasuta pergi ke medan perang. Adegan 3. Suasana peperangan antara pasukan yang dipimpin Raden Wirasuta yang gagah berani melawan pasukan Belanda yang bermaksud menguasai Kesultanan Banten. Raden Wirasuta juga berhasil mengajak musuhnya untuk masuk Islam dengan membaca syahadat dihadapannya. Ia kemudian dikenal sebagai panglima perang yang ditakuti musuh, namun sangat ksatria terhadap musuh yang tidak berdaya. Babak V Adegan 1. Narasi atau tembang yang menggambarkan Raden Wirasuta ditugasi untuk meng-Islam-kan Sriwijaya. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, ia kembali ke Surasowan dengan perahu layar. Di tengah laut selepas Lampungia didekati oleh Ratu Dora Putih. Suasana di atas perahu Raden Wirasuta didatangi Ratu Dora Putih. Kemudian menari bersama. Namun tiba-tiba ketika Wirasutasednag membelakanginya, Ratu Dora Putih menghunus pedang, dan memutuskan tangan Raden Wirasuta. Adegan 2. Penyambutan Raden Wirasuta di Surasowan. Raden Wirasuta datang dalam keadaan tangan terputus, tidak lama kemudian ia wafat. Sultan kemudian memberikan gelar Pangeran Asta Pati (Asta=tangan, Pati=mati). Sultan kemudian menguburkannya di sebuah pemakaman Keluarga Keturunan “Bangsawan Lebak Parahyang”. Narasi/tembang : “Turunan atawa teureuh Menak Lebak Parahiyang, teu meunang nikah ka urang Palembang reujeung Lampung” Suasana mengantar jenazah Pangeran Astapati dengan taburan bungan, kain putih, batik biru Baduy, suara Angklung dan Sholawatan. Narasi : Pangeran Astapati atau Raden Wirasuta Akmaldiningrat mempunyai putera ; Ki Ngabehi Bahu Pringga (Patih Darus); Ki Anab; Nyai Dariah ; Kiai Gantang ; Nyai Andil. Dari Ki Ngabehi Bahu Pringga atau Patih Darus kelak menurunkan putera menak yaitu KH.Kimaslia yang kemudian menjadi ulama sekaligus menak yang memegang kuasa atas daerah Kabupaten Pandeglang yang bergelar RTAA.Natadiningrat, yang dikenal dengan Dalem Tjiekek. Sementara cucunya diantaranya Raden Murawan Sutadiningrat dan Raden Bagus Djayadiningrat. Keturunan selanjutnya dari Pangeran Astapati mejadikan sejarah panjang Kesultanan Banten hingga saat ini. Ending. Pemeran : 1. Pangeran Astapati 2. Ratu Dora Putih 3. Sultan Ageng Tirtayasa 4. Puun Cikartawana 5. 10 orang Baduy 6. 10 orang Prajurit Kesultanan 7. 10 orang pasukan Belanda 8. 10 orang putrid Kesultanan Ciwasiat, 01092013