Selasa, 02 Agustus 2011

Kenalkan Seni Tradisi Pada Generasi

Kenalkan Seni Tradisi Pada Generasi
Oleh : Rohaendi

Kesenian tradisional menjadi tamu di daerahnya sendiri. Kesenian tradisonal menjadi asing bagi generasi penerusnya. Bahkan kesenian daerah itu menjadi eksklusif di tempatnya sendiri. Sebuah kenyataan disekitar kita yang sungguh memilukan siapapun yang rajin memikirkan identitas budaya generasi kita kedepan..
Kesenian tradisional akan selalu menjadi asing dan eksklusif dimata generasi muda saat ini, jika semua unsure, elemen, bagian masyarakat dan semua warga Negara ini, tidak komit untuk peduli, paling tidak dengan memberikan kesempatan pentas pada berbagai event, dimuat di berbagai media dan dihadirkan pada apapun kesempatannya.
Peribahasa tak kenal maka tak sayang, sudah lama dan sangat sering kita dengar, tetapi mengapa sepertinya kita tidak “ngèh” terhadap kesenian tradisional yang sudah mulai tidak dikenali generasinya.
Ya, bagaimana akan sayang, kalau memang mereka (generasi muda) tidak kenal. Bagaimana pula akan kenal, kalau kesenian tradisional yang dimaksud, belum pernah mereka lihat sebelumnya, apalagi bercengkrama. Mereka hanya mendengar dari cerita kakeknya, ketika sedang mengenang aktifitas masa lalu keluarga. Atau dari guru kesenian, yang karena tuntutan kurikulum dan silabus, harus menerangkan materi kesenian tradisional yang ada di daerah tempat ia bekerja.
Tradisi budaya memang akan berubah, karena kebiasaan hidup manusia pelakunya juga berubah, sejalan dengan kebutuhan jaman dan kemajuan berbagai hal. Namun dari sekian bagian tradisi budaya, ada satu hal yang semestinya tetap dipertahankan, karena berhubungan dengan ciri spesifik, kekhasan, atau bahkan menjadi sumber pembentukan jati diri generasi, sehingga ia layak menyandang symbol kedaerahan untuk menyebutkan dari daerah mana ia berasal. Inilah yang kemudian disebut budaya local dengan segala pernik-pernik tradisinya.
Jargon bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya pun sangat sering didengungkan, bahkan menjadi pendahuluan dan kata-kata pembuka berbagai proposal proyek yang berhubungan dengan kebudayaan, agar disetujui nominal anggarannya. Namun ternyata, jargon itu hanyalah penghibur belaka bagi para penggerak seni, agar tidak melupakan dan meninggalkan kemampuan praktis berkesenian yang mereka miliki. Karena pada kenyataannya, tetap saja birokrat, tehnokrat dan aparat kebanyakan berpandangan dan meyakini ; bahwa bangsa yang besar itu adalah bangsa yang mampu sejajar dengan Amerika, Jepang atau negara-negara yang berada di Erofa sana.
Mereka lupa bahwa ia disebut Indonesia, ketika ia sering mengenakan batik, bergumam melantunkan lagu-lagu daerah, bersikap santun penuh kekeluargaan, serta sejumlah kebiasaan lain yang mencirikan ke-Indonesia-an, termasuk mengetahui dan dengan fasih menyebutkan jenis-jenis kesenian dan perilaku tradisi yang ada di daerahnya.
Tumbuh ke-Indonesia-an tersebut bukan akan “jadi” begitu saja, tetapi tentu membutuhkan penggiringan ke arah itu. Lingkungan, suasana, batin, pengetahuan, pengalaman estetik, cerita hidup, masa kecil, dan kebanggaan diri harus disugestikan kepada hal-hal yang berbau tradisi budaya Indonesia tempat ia berada.
Nah jika demikian, sebenarnya siapakah yang mesti disalahkan?, karena masing-masing tentu memiliki alibi untuk tidak mau disalahkan. Tidak pula pemerintah yang dengan segala keterbatasan dana yang ada, selalu memprioritaskan pembangunan fisik ketimbang pembangunan dan penguatan kultur budaya yang akan menentukan mentalitas masyarakatnya. Hal ini bukan pula disebut sebuah kesalahan generasi sebelumnya yang tidak memaksakan untuk mengkondisikan secara paksa terhadap anak dan cucunya agar mencintai seni tradisi.
Sebut saja ini adalah kesalahan media massa yang terlampau gencar memberitakan dan mempromosikan hiburan berlatar belakang budaya luar atau komunitas masyarakat lain. Namun siapa berani membiayai dan menanggung ongkos produksi untuk menayangkan kesenian tradisional masyarakat pribumi, agar senantiasa selalu hinggap pada benak generasi mudanya.
Beberapa rumah produksi baik local maupun nasional sangat susah mencari perusahaan yang mau mensponsori kalender event budaya tradisional. Dan kalaupun ada, perbandingannya mungkin tidak lebih dari seratus banding satu, dari sekian acara yang digarapnya. Yah lagi-lagi soal anggaran bukan???
Para pemilik perusahaan sangat terobsesi akan pasar yang akan berakibat terhadap omset produk perusahaannya. Inilah yang membuat mereka enggan menggarap seni tradisi.
Namun berbeda dengan sang kreator atau sutradara-sutradara serta para produser; yang mengatakan bahwa Seni tradisional itu kualitasnya tidak memadai untuk ditayangkan di sebuah media massa, selain hajatan-hajatan atau seremonial protokoler pemerintahan. Nah Kualitas!, mungkin kini remang-remang mulai tampak akar permasalahannya.
Jika kualitas menjadi alasan, bukankah sederet sanggar seni yang berkualitas bertebaran di Jakarta yang notabene berdekatan dengan para penggarap event-event di ibu kota?. Bahkan mereka lebih sering menggadaikan nilai idealisme tradisinya dengan membawakan tarian latar lagu-lagu modern, agar sanggar mereka mendapat job pementasan dari rumah-rumah produksi.
Masih seputar kualitas; bukankah IKJ, UNJ, STSI, ISI, UPI dan sederet perguruan tinggi yang membuka Fakultas Seni di Indonesia merupakan jaminan akan kualitas pertunjukkan seni tradisional?.
Pada kenyataannya, tetap saja pertunjukkan seni tradisional yang menampilkan budaya local, masih jarang dipertontonkan menjadi acara rutin di media-media massa.
Jadi jangan salahkan generasi, kalau memang kini anak-anak kita mulai terserabut dari budaya local bapa dan ibunya yang Indonesiawi. Mereka tak mengetahui; karena jarang melihatnya. Mereka tak mencintai karena tidak mengenalnya. Alhasil, jika sesekali diajak untuk mempelajarinya, paling menjawab kuno. Mereka akan menganggap susah, banyak aturan/pakem, dan yang paling logis adalah; “susah menjadi duit”, katanya.
Atas kemungkinan logis itulah, maka Bale Seni Ciwasiat dalam ulang tahunnya yang ke-1, mengadakan kegiatan ROAD TO SCHOOL. Sebuah kegiatan pergelaran seni tradisional hasil kemasan yang singkat dan padat, tampil dihadapan anak-anak Sekolah Dasar di peloksok-peloksok Kabupaten Pandeglang. Kami berinteraksi dengan anak-anak yang ternyata memang sebagian besar belum pernah menonton kesenian tradisional daerahnya sendiri (sebut saja Kesenian Rampak Bedug yang merupakan kesenian khas Kabupaten pandeglang).
Kecil, sedikit, tidak mewakili keseluruhan anak-anak Pandeglang, apalagi generasi mendatang, dan mungkin hanya kenyataan yang tidak reliable, serta sebuah pengisian entri data yang kurang valid. Namun bagaimanapun, sekecil apapun itu, pergerakan Bale Seni Ciwasiat tersebut adalah sebuah pembuktian dan upaya kecil dari sebuah misi yang besar; mengenalkan seni tradisional pada generasi penerus bangsa, agar tahu, lalu kenal, kemudian mencintai, selanjutnya ingin mempelajari, dan akhirnya menjadi bisa secara praktis. Ini dipastikan akan mewarnai pola pikir, sikap, tingkah, dan menjurus kepada pembentukan jati diri yang Indonesiawi. Sebuah gerakan yang sangat ideal bukan?.
Lagi-lagi respons yang dingin dan hambar dari para penentu kebijakan pemerintahan kita selalu menjadi ganjalan para komunitas seni tradisi untuk terus bersemangat. Tentu ada alasan kesibukan dan kepentingan yang lebih urgen dari sekedar menyaksikan kegiatan kecil di sekolah dasar pinggiran yang paling dihadiri oleh tidak lebih dari 300 (tiga ratus) orang. Dilihat dari logika kuantitas dan kualitas manapun juga, kegiatan seperti itu tak selayaknya perlu dihadiri oleh seorang pejabat esselon dua “mungkin”. Itulah kenyataannya. Ini bukan propokasi, tapi adalah sebuah keniscayaan, akan surutnya semangat para penggerak seni dimanapun, dimasa yang akan datang.
Mengingat pemikiran di awal, kemudian pencarian solusi di tengah, dan kenyataan kasus di lapangan seperti di akhir tadi, mungkin bagi penulis kini memberikan sedikit cahaya terang, bahwa masalahnya berada pada bagian akhir; yakni pola berfikir logika para penentu kebijakan pada bidang kesenian tadi, yang menganggap kecil kegiatan seni tradisi di peloksok-peloksok.
Padahal, jika kegiatan seni tradisi itu dianggap penting, maka sekecil apapun kegiatannya, tentu akan berdampak terhadap besarnya pengaruh budaya local terhadap generasi mendatang ke depan. Mengingat anggapan penting tadi, menjadikan pemicu terhadap daya juang dan semangat para penggerak kesenian yang masih terisisa, untuk terus berkegiatan, mengusung misi besar membentuk generasi yang yang bersikap, bermental, berkarakter, bertingkah dan berprilaku indonesiawi tadi.
Nah jadi memperkenalkan seni tradisi pada generasi adalah harus dianggap penting oleh seluruh unsure, elemen, bagian masyarakat dan semua warga Negara. Karena hanya diawali dari pergerakan memperkenalkanlah, maka rasa selanjutnya akan berkembang menjadi cinta, yang berujung pada santunnya sikap generasi dimasa yang akan datang, yang menjadikan Indonesia tetap Indonesia, bukan Erofa atau Amerika, serta Banten tetap Banten bukan Melayu atau Makasar, apalagi ke-Barat-baratan. Itu semua karena mengenal budayanya.


Pandeglang, 24 Januari 2009
Penulis adalah Pimpinan Bale Seni Ciwasiat Pandeglang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar